ilmu

Ketentuan ilmu Berbeda dengan pengetahuan, ilmu adalah pengetahuan khusus mana seseorang tahu apa penyebab dari sesuatu dan mengapa. Ada sesuatu persyaratan ilmiah dapat disebut ilmu [4]. Ilmiah sifat ilmu pengetahuan sebagai persyaratan dari banyak dipengaruhi oleh paradigma ilmu alam yang telah ada terlebih dahulu. 1. Tujuan. Ilmu harus memiliki obyek kajian yang terdiri dari satu kelas sifat dasarnya masalah yang sama, tampak dari luar maupun bentuknya dari dalam. Obyek dapat berada di sana, atau ada mungkin masih diuji karena keberadaannya. Dalam mempelajari obyek, yang dicari adalah kebenaran, yaitu persesuaian antara tahu dengan obyek, dan karenanya disebut kebenaran obyektif, bukan subyektif berdasarkan subjek atau subjek penelitian yang mendukung penelitian. 2. Metodis adalah upaya yang dilakukan untuk meminimalkan kemungkinan penyimpangan dalam mencari kebenaran. Konsekuensi dari upaya ini adalah harus ada beberapa cara untuk menjamin kepastian kebenaran. Metodis berasal dari "Metodos" kata Yunani yang berarti: jalan, jalan. Secara umum metodis berarti metode tertentu yang digunakan dan umumnya mengacu pada metode ilmiah. 3. Sistematis. Dalam perjalanannya mencoba untuk menemukan dan menggambarkan objek, ilmu pengetahuan harus dibubarkan dan dirumuskan dalam sebuah hubungan yang teratur dan logis sehingga membentuk suatu sistem secara keseluruhan bermakna, seorang dapat komprehensif, terpadu, untuk menjelaskan urutan sebab dan akibat yang berkaitan dengan nya objek. Pengetahuan disusun secara sistematis dalam rangkaian kausalitas adalah kebutuhan ilmu ketiga. 4. Universal. Kebenaran harus dicapai adalah kebenaran universal yang bersifat umum (tidak ditentukan). Contoh: 180 ยบ dari semua sudut segitiga. Oleh karena itu universal kebutuhan ilmu keempat. Kemudian, ilmu-ilmu sosial untuk mewujudkan tingkat publik-an (universal) yang dikandungnya berbeda dengan ilmu alam karena obyeknya adalah tindakan manusia. Oleh karena itu, untuk mencapai tingkat universalitas dalam ilmu-ilmu sosial, konteks tertentu dan harus tersedia pula.

good morning

Sains adalah upaya sadar untuk menyelidiki, menemukan dan meningkatkan pemahaman manusia tentang realitas multifaset sifat manusia [1]. Aspek-aspek terbatas sehingga formula yang dihasilkan pasti. Ilmu memberikan kepastian dengan membatasi lingkup pandangannya, dan kepastian ilmu yang berasal dari keterbatasan [2].

Contoh: Ilmu Alam hanya dapat dipastikan setelah lapangan dibatasi ke dalam bahani (materi saja) atau ilmu psikologis dapat memprediksi perilaku manusia hanya jika membatasi lingkup pandangannya secara umum perilaku manusia konkret. Berkenaan dengan contoh ini, ilmu-ilmu alam untuk menjawab pertanyaan tentang seberapa jauh matahari dari bumi, atau ilmu psikologi menjawab apakah seorang gadis cocok untuk menjadi perawat.

Search This Blog

Saturday, September 24, 2011

Kesehatan Seksual dan Reproduksi


Kesehatan Reproduksi Remaja:

Membangun  Perubahan  yang  Bermakna


Masa Remaja* diwarnai oleh pertumbuhan, perubahan, munculnya  berbagai kesempatan, dan seringkali menghadapi risiko-risiko kesehatan reproduksi. Kebutuhan akan peningkatan pelayanan  kesehatan  dan  sosial  terhadap  remaja  semakin  menjadi  perhatian  di  seluruh penjuru  dunia.  Dipacu  rekomendasi  dari  hasil  International  Conference  on  Population  and Development (ICPD) tahun  1994 atau yang disebut dengan Konperensi Internasional  mengenai Kependudukan dan Pembangunan (lihat kotak, halaman 2), banyak organisasi di berbagai negara telah menciptakan berbagai program agar dapat lebih memenuhi kebutuhan para remaja di bidang kesehatan  reproduksi. Meskipun untuk  memenuhi  kebutuhan global,  program  remaja  yang ada masih sangat sedikit dan terbatas serta evaluasinya masih belum memadai, namun ternyata banyak pelajaran yang dapat di petik dari proyek perintis/percontohan dan upaya inovatif yang telah dilakukan di  berbagai  wilayah  mengenai  jenis  kegiatan remaja, baik yang  dapat  menghasilkan  perubahan yang bermakna maupun yang tidak. Sekitar 1 milyar manusia   hampir 1 di antara 6 manusia di bumi ini   adalah remaja; 85% di antaranya hidup di  negara  berkembang. Banyak sekali  remaja  yang sudah  aktif secara seksual  (meski tidak selalu atas pilihan sendiri), dan di berbagai daerah atau wilayah, kira-kira separuh dari mereka sudah menikah.

Kegiatan  seksual menempatkan remaja pada  tantangan risiko terhadap berbagai masalah kesehatan reproduksi. Setiap tahun kira-kira 15 juta remaja berusia 15-19 tahun melahirkan, 4 juta  melakukan  aborsi,  dan hampir  100 juta  terinfeksi  Penyakit Menular  Seksual (PMS) yang dapat disembuhkan.  Secara global, 40% dari  semua kasus  infeksi  HIV  terjadi  pada kaum muda yang berusia 15-24 tahun. Perkiraan terakhir adalah, setiap hari ada 7.000 remaja terinfeksi HIV.

Risiko kesehatan ini dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling berhubungan,  misalnya
tuntutan untuk kawin muda dan hubungan seksual, akses terhadap pendidikan dan pekerjaan, ketidak-
setaraan jender, kekerasan seksual dan pengaruh media massa maupun gaya hidup yang populer. Remaja seringkali kekurangan  informasi dasar  mengenai kesehatan reproduksi,  keterampilan menegosiasikan  hubungan  seksual,  dan  akses  terhadap  pelayanan  kesehatan  reproduksi  yang terjangkau serta terjamin kerahasiaannya.  Keprihatinan akan jaminan kerahasiaan (privacy) atau
kemampuan  membayar,  dan  kenyataan  atau persepsi  remaja terhadap  sikap  tidak  senang  yang
ditunjukkan oleh pihak petugas kesehatan, semakin membatasi akses pelayanan lebih jauh, meski
pelayanan itu ada. Di samping itu, terdapat pula hambatan legal yang berkaitan dengan pemberian
pelayanan dan  informasi  kepada  kelompok  remaja.  Banyak di antara  remaja  yang  kurang  atau
tidak memiliki hubungan yang stabil dengan orangtuanya maupun dengan orang dewasa lainnya,
dengan  siapa  seyogianya remaja dapat  berbicara tentang masalah-masalah kesehatan reproduksi
yang memprihatinkan atau yang menjadi perhatian mereka.
* Menurut definisi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), remaja (adolescence) adalah mereka yang berusia 10-19 tahun. Sementara
PBB menyebut anak muda (youth) untuk usia 15-24 tahun. Ini kemudian disatukan dalam terminologi kaum muda (young people)
yang mencakup usia 10-24 tahun.
Meskipun dihadapkan pada tantangan-tantangan di atas, program
Rekomendasi ICPD
yang  memenuhi  kebutuhan remaja  akan  informasi  dan  pelayanan
untuk Pelayanan Kesehatan Reproduksi Remaja
dapat  membawa  perubahan  bermakna.  Program-program  yang
International Conference on Population and Development (ICPD)
berhasil  dapat  membantu  remaja  mengembangkan  kemampuan
atau  yang disebut  Konperensi Internasional mengenai
perencanaan  hidup  mereka,  menghormati  kebutuhan  dan
Kependudukan dan Pembangunan mendorong Pemerintah dan
keprihatinan kaum muda, dapat melibatkan masyarakat dalam upaya
Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) untuk mengembangkan
mereka, serta memberikan pelayanan klinis yang dapat menghormati
program yang tanggap terhadap masalah seksual dan reproduksi
dan menjaga kerahasiaan kliennya. Artikel ini menelaah aspek-aspek
remaja. Berbagai negara juga direkomendasikan agar berupaya
yang  mempengaruhi  kesehatan  reproduksi  remaja,  mengulas
menghilangkan  hambatan  hukum,  hambatan  peraturan  dan
program-program  yang  telah  dilakukan,  serta  mengevaluasi
hambatan  sosial  atas  informasi  dan  pelayanan  Kesehatan
pelajaran  (lessons  learned)  yang  dapat  di petik  dari  pengalaman
Reproduksi Remaja.
Pelayanan dan kegiatan penting yang digaris
program-program tersebut.
bawahi, termasuk:informasi dan konseling KB;
Berbagai Risiko Kesehatan Reproduksi
pelayanan klinis bagi remaja yang aktif secara seksual
pelayanan bagi remaja yang melahirkan dan remaja dengan
Kesehatan  reproduksi  remaja  dipengaruhi  oleh kehamilan,
anaknya;
aborsi,  penyakit menular  seksual  (PMS), kekerasan  seksual, dan
konseling  yang  berkaitan  dengan  hubungan  antar jender,
oleh sistem yang membatasi akses terhadap informasi dan pelayanan
kekerasan,  perilaku seksual  yang  bertanggung-jawab,  dan
klinis. Kesehatan  reproduksi juga dipengaruhi  oleh  gizi, kesehatan
penyakit menular seksual; dan
psikologis, ekonomi dan ketidak-setaraan  jender yang menyulitkan
pencegahan  dan perawatan terhadap  penganiayaan seksual
remaja putri menghindari hubungan seks yang dipaksakan atau seks
(sexual abuse) dan hubungan seksual sedarah (incest).
komersial.

Berbagai  kemajuan telah dihasilkan semenjak  ICPD  tersebut.
Kehamilan
.  Di  berbagai belahan  dunia, wanita  menikah dan
Sudah lebih banyak negara yang telah  merumuskan kebijakan
melahirkan di masa  remaja mereka (lihat Tabel 1). Kehamilan  dan
program yang berkaitan dengan kesehatan reproduksi  remaja.
persalinan  membawa risiko morbiditas dan mortalitas  yang  lebih
Dan telah  lebih banyak  program  yang  dikembangkan dengan
besar pada remaja dibandingkan pada wanita yang telah berusia 20
pendekatan terintegrasi, yang mengakomodasikan pengaruh sosial
tahunan,  terutama di  wilayah  di  mana  pelayanan  medis sangat
terhadap perilaku. Di samping itu, semakin banyak partisi pasi
langka atau  tidak tersedia (lihat Outlook, Volume 16 Januari 1999
remaja dalam mengembangkan dan mengevaluasi program, dengan
Edisi Khusus: Keselamatan lbu). Remaja putri yang berusia kurang
penekanan  baru  pada  lingkungan  program yang  aman  dan
dari 18 tahun mempunyai 2 sampai 5 kali risiko kematian (maternal
mendukung.

mortality)  dibandingkan  dengan  wanita  yang  telah  berusia  18-25
tahun akibat  persalinan  lama  dan persalinan  macet,  perdarahan
maupun  faktor  lain.
Kegawat  daruratan  yang  berkaitan dengan
Aborsi yang disengaja (induced abortion) seringkali berisiko

kehamilan, misalnya  tekanan darah tinggi (hipertensi)  dan anemia
lebih besar pada remaja putri dibandingkan pada wanita yang lebih
(kurang darah) juga lebih sering terjadi pada ibu-ibu berusia remaja,
tua.  Remaja  cenderung  menunggu lebih lama  sebelum  mencari
terutama pada daerah di mana kekurangan gizi merupakan endemis.
bantuan karena tidak dapat mengakses pelayanan kesehatan, atau
Aborsi yang tidak aman
.  Kehamilan yang tidak diinginkan
bahkan mungkin mereka tidak sadar atau tahu bahwa mereka hamil.
pada remaja sering kali berakhir dengan aborsi. Banyak survei yang
Di berbagai negara, risiko ini menjadi berat di mana aborsi hanya
telah dilakukan di negara-negara berkembang menunjukkan bahwa
tersedia dalam keadaan yang tidak aman. Di Nigeria misalnya, 50 -
hampir 60% kehamilan pada wanita di bawah usia 20 tahun adalah
70% wanita yang masuk rumah sakit akibat komplikasi aborsi yang
kehamilan yang tidak diinginkan atau salah waktu (mistimed).
Pada
disengaja, umumnya  mereka  yang  berusia  di  bawah  20  tahun.

akhir tahun 1980-an di Kanada, Inggris, Selandia Baru dan Amerika
Sebuah  telaah  yang  dilaksanakan  di  sana  selama  13  tahun,
Serikat menunjukkan bahwa 50% lebih dari semua aborsi terjadi pada
menemukan  bahwa  72%  kematian  ibu di sebuah  rumah  sakit
wanita di  bawah usia  25  tahun.
Di banyak  negara  berkembang,
universitas,  terjadi  pada  wanita  di  bawah  usia  19 tahun  dan
mahasiswi  atau  pelajar yang hamil seringkali  mencari  pelayanan
disebabkan oleh komplikasi akibat aborsi yang tidak aman.
1 2
aborsi agar mereka tidak dikeluarkan dari  sekolah.
Penyakit Menular Seksual (PMS), termasuk HIV
. Infeksi
PMS  dapat  menyebabkan  masalah  kesehatan  seumur  hidup,
Tabel 1. Prosentase wanita berusia 20-24 tahun yang
termasuk  kemandulan  dan rasa sakit kronis, serta meningkatkan
risiko  penularan HIV.  Sekitar  333  juta  kasus  PMS  yang  dapat
melahirkan pada usia 20 tahun,
menurut wilayah dan negara
disembuhkan terjadi setiap tahunnya;  dan data yang ada
Cina
14%
menunjukkan bahwa sepertiga dari infeksi PMS di negara-negara
Amerika Latin/Karibia 27-50%
berkembang terjadi pada  mereka yang berusia 13-20 tahun.
Di
Afrika Utara/Timur Tengah 13-41%
pedesaan Kenya misalnya, 41% wanita berusia 15-24 tahun yang
Sub-Sahara Afrika 25-75%
mengunjungi klinik Kesehatan lbu-Anak & KB (KIA/KB) terinfeksi
Asia Selatan 16-66%
PMS dibanding 16% dari seluruh wanita usia reproduksi.
Asia Tenggara
21-33%
Risiko  remaja  untuk  tertular  HIV/AIDS  juga  meningkat.
Amerika Serikat 22%
Perkiraan terakhir memperhitungkan bahwa 40% dari infeksi HIV
terjadi pada  kaum muda  berusia  15-24 tahun;  7.000 dari 16.000
kasus  infeksi  baru  yang  terjadi  setiap  hari.  Infeksi baru  pada
Data dari tahun 1980-an dan 1990-an
Data dari Indonesia, .ili pina dan Thailand.
kelompok wanita jauh lebih tinggi dibanding pada pria, dengan rasio
Sumber: AGI 1998.
2 banding 1
Kaum  muda  cenderung lebih  berisiko tertular PMS, termasuk
Guatemala City menemukan bahwa 40% dari 143 anak jalanan
HIV/AIDS  karena  berbagai  sebab.  Seringkali hubungan seksual
yang  disurvei melakukan  hubungan  seks  pertama  dengan
terjadi tanpa  direncanakan  atau tanpa  diinginkan.
(Lihat  faktor orang yang tidak mereka kenal; semua pernah berhubungan seks

sosial  budaya di  bawah ini ).  Walaupun hubungan  seks  dilakukan
demi uang,  semua  pernah  dianiaya  secara seksual, dan 93%
atas keinginan bersama ( mau sama mau ). Seringkali remaja tidak
pernah terinfeksi penyakit menular seksual (PMS).

merencanakan  lebih  dahulu  sehingga  tidak siap  dengan  kondom
_ Di Thailand, di perkirakan 800.000 pekerja seks komersial (PSK)
maupun kontrasepsi  lain,  dan mereka yang  belum berpengalaman
berusia  di bawah  20  tahun  dan dari  jumlah  ini,  200.000 di
berKB  cenderung  menggunakan  alat  kontrasepsi  tersebut  secara
antaranya berusia di bawah 14 tahun. Beberapa di antara mereka
tidak benar.
Lebih  lanjut,  remaja  putri  mempunyai  risiko lebih
dijual   sebagai  PSK oleh  orangtuanya  guna  menghidupi
tinggi  terhadap infeksi  dibandingkan  wanita  lebih  tua  karena
anggota keluarga yang lain.
belum matangnya sistem reproduksi mereka.
Female Genital Mutilation (FGM)
atau  Pemotongan
Tantangan Mengembangkan Program yang Efektif
Kelamin Wanita. Yang  dimaksud dengan  .GM  atau pemotongan
Program  untuk meningkatkan kesehatan  reproduksi  remaja
alat kelamin wanita  adalah pemotongan sebagian atau seluruh  alat
menghadapi beberapa tantangan. Program harus dapat memberikan
kelamin luar wanita maupun tindak perlukaan lainnya terhadap alat
informasi  dan  pelayanan  klinis  yang  tepat,  sekaligus membantu
kelamin wanita. .GM merupakan  praktek  tradisional yang  sudah
remaja mengembangkan kemampuan membuat keputusan maupun
berurat-berakar  yang  berdampak  sangat  parah dan  berat  terhadap
memperoleh keterampilan  utama  yang  lain.  Program  juga  harus
kesehatan  reproduksi  remaja  putri  atau  wanita.  Umumnya
memperhitungkan berbagai faktor   yang  mempengaruhi   pilihan
praktek  semacam  ini  dilakukan  di  negara-negara  Afrika.
remaja (misalnya norma budaya, pengaruh teman sebaya dan media
Kebanyakan perempuan yang telah menjalankan .GM adalah mereka
massa, serta  kesulitan  ekonomi)  dan mengembangkan  strategi
yang  tinggal di salah satu dari  28  negara di Afrika;  sekitar  2 juta
program  yang  mampu  menjawab kebutuhan  remaja.  Selain  itu
remaja putri menjadi  korban  praktek ini  setiap tahunnya.
Selain
program  juga  harus  mampu  membangun  masyarakat  dan
trauma  psikologis  yang dialami  saat  pemotongan,  .GM dapat
menggalang dukungan politis bagi kegiatan-kegiatan yang berpusat
mengakibatkan  infeksi, perdarahan  hebat  dan  shock.  Perdarahan
pada remaja.
yang tidak terkontrol ataupun infeksi, dapat mengakibatkan kematian
Penyediaan pelayanan klinis
. Pelayanan klinis kesehatan
dalam waktu  beberapa  jam atau beberapa  hari.  Beberapa  bentuk
reproduksi remaja  paling baik  dilakukan  oleh petugas  yang  telah
.GM dapat  menyebabkan rasa  sakit  kronis setiap kali  melakukan
terlatih menghadapi masalah khas remaja dan mampu memberikan
hubungan  seks,  infeksi  radang panggul  yang berulang-ulang dan
konseling untuk remaja yang berkaitan dengan masalah reproduksi
persalinan  lama  maupun  macet.  ICPD  menyatakan  bahwa
dan kontrasepsi yang dinilai sangat peka (lihat kotak hal. 4). Dalam
.GM  merupakan  pelanggaran  hak  asasi  manusia  dan  mendesak
semua kegiatan intervensi, petugas harus mempertimbangkan status
penghapusan kebiasaan tersebut.
perkawinan si remaja,  keadaan kesehatannya  secara  keseluruhan,
Faktor sosial budaya
. Penganiayaan seksual dan pemaksaan
serta seberapa besar kuasa yang mereka miliki dalam hubungan seks.
seks  meningkatkan  risiko  kesehatan  pada remaja, demikian  pula
Remaja  seringkali menyebutkan karakteristik berikut  ini  sebagai
norma kultural yang berkaitan dengan jender dan hubungan seksual.
hal  yang penting  dalam  memenuhi  kebutuhan  kesehatan  mereka:
Sebagai contoh :
jaminan  kerahasiaan,  lokasi  dan
_ Di  berbagi  negara,  seperti  India,  praktek  per-
waktu/jam  yang  sesuai,
kawinan yang  diatur  orangtua pada gadis di ba-
lingkungan  yang  bersahabat  bagi
“Membatasi akses terhadap pendidikan
wah usia 14 tahun masih sangat umum.
remaja,  terbuka  bagi  remaja  putri
kesehatan seksual yang ditujukan untuk
_ Hubungan seksual terjadi pada gadis usia 9-12 tahun
maupun  putra,  memiliki
menunda hubungan seks pertama dan
karena banyak pria dewasa mencari gadis muda se-
komponen  program  konseling
mempraktekkan seks aman adalah
bagai pasangan  seksual  untuk  melindungi  diri
yang  kuat,  petugas  yang  terlatih
pelanggaran terhadap hak anak. Anak-
mereka sendiri terhadap penularan PMS/HIV.
secara  khusus  serta  pelayanan
anak, baik perempuan maupun laki-laki
_
Di beberapa budaya, pria muda diharapkan untuk
klinis yang komprehensif.
perlu memahami bagaimana mereka
memperoleh pengalaman hubungan seks pertama
Pemberian I nfo rmasi
.
dapat membantu untuk mengambil
kalinya dengan  seorang  pekerja seks komersial
Memberikan informasi  yang tepat
tanggung jawab atas hidup mereka
(PSK).
dan  relevan  tentang  kesehatan
sendiri - untuk melindungi diri sendiri
_ Remaja, terutama remaja putri seringkali dipaksa
reproduksi,  merupakan  hal  yang
dan orang lain dari HIV.”
berhubungan  seks.  Di  Uganda  misalnya,  40%
sangat  penting  bagi program  jenis
Peter Piot
dari  siswi  sekolah  dasar  yang  dipilih  secara
apapun.  Pendidikan  dan  konseling
UNAIDS.
acak melaporkan telah dipaksa untuk berhubungan
yang  berbasis di klinik merupakan
seks.
hal yang terpenting dalam upaya ini,
_
Di  Sub-Sahara  Afrika,  pengalaman  hubungan
demikian  pula  program yang  berbasis  di  sekolah  (lihat  kotak  hal.
seks  pertama  bagi  beberapa  remaja  putri  adalah  dengan
5). Jelas  sekali  bahwa  orangtua adalah  sumber utama  informasi,
Om Senang  yang memberikan mereka pakaian, biaya sekolah,
walau seringkali para orangtua merasa kurang punya informasi, malu
dan buku-buku sebagai imbalan atas jasa seks yang diberikan.
membahas topik ini dengan anak mereka, atau bahkan tidak setuju
_ Di negara berkembang, jutaan anak hidup dan bekerja di jalanan,
bila remaja mengutarakan minatnya untuk mengetahui hal-hal yang
dan  banyak  di  antara  mereka  yang terlibat dalam  seks  demi
berkaitan  dengan  seksualitas.  Pendekatan  gaya  remaja  seperti
bertahan  hidup   (survival  sex)  dimana  mereka menukar seks
program  radio  on-air   di  mana  remaja  dapat  menelpon,  sanggar
untuk memperoleh makanan, uang, jaminan keamanan maupun
remaja (drop-in centers), majalah,  telepon hotline  juga merupakan
obat-obat  terlarang.
kontrasepsi Bagi Remaja yang Aktif Secara Seksual
Remaja yang meminta konseling kontrasepsi, menginginkan konseling yang memberikan jaminan kerahasiaan, bersifat akurat, tidak
menghakimi serta dalam suasana lingkungan yang nyaman dan menyenangkan. Setiap klien yang meminta konseling kontrasepsi mempunyai
hak untuk memperoleh informasi yang jelas dan akurat mengenai metode kontrasepsi, termasuk penggunaan yang benar, efek sampingnya dan
bagaimana menghubungi petugas kesehatan yang punya kepedulian.
Kondom jelas merupakan pilihan pertama bagi mereka yang telah aktif secara seksual, terutama yang belum menikah dan/atau mempunyai
pasangan tetap (monogamis). Kondom mencegah penularan PMS dan HIV bila digunakan secara benar dan konsisten serta efek sampingnya
sangat kecil. Pantang berhubungan seks (abstinence) perlu dibahas sebagai salah satu pilihan bagi mereka yang belum aktif secara seksual
maupun yang sudah. Mereka yang memilih kontrasepsi hormonal atau metode kontrasepsi lainnya disarankan untuk juga menggunakan
kondom apabila mereka berhubungan seks dengan seseorang yang tidak diyakini bebas dari PMS. Pilihan kontrasepsi lain mencakup berikut
ini:
.emale Barrier Methods termasuk kondom wanita, diafragma, dan spermisida dapat juga  menjadi pilihan serta dapat memberikan
pelindungan tertentu terhadap PMS. Namun penerimaan metode kontrasepsi tersebut dan cara penggunaannya dapat menjadi masalah.
Pil  kontrasepsi  darurat  (emergency  contraception pills)  tidak melindungi  terhadap  PMS,  namun  merupakan metode  penting.
Penggunaannya 72 jam sesudah berhubungan seksual tanpa pelindung  (unprotected intercourse).
Pil KB tidak dapat mencegah PMS, tetapi merupakan kontrasepsi populer di kalangan remaja putri di berbagai wilayah di dunia. Cara peng-
gunaan yang benar serta konsisten dapat menjadi masalah bagi beberapa remaja putri, terutama bila mereka mengalami efek samping
hormonal seperti payudara nyeri dan naiknya berat badan. Dengan demikian, konseling menjadi penting sebelum menggunakan pil KB.
Cara KB tradisional seperti sanggama terputus dan KB alamiah tidak dapat mencegah PMS, namun tetap merupakan pilihan. Bahkan
mungkin, sanggama terputus merupakan satu-satunya metode dalam situasi tertentu.
IUD atau Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR) dan sterilisasi umumnya tidak dianjurkan bagi remaja. Metode yang hanya berisi-
progestin (seperti pil, susuk KB dan KB suntik) lebih tepat bagi klien yang telah berusia di atas 16 tahun, karena keprihatinan teoretis bahwa
progestin bisa berpengaruh terhadap perkembangan tulang pada remaja putri.
Umumnya, remaja tidak merencanakan hubungan seks terlebih dahulu serta juga tidak mengantisipasi akan adanya kesulitan dalam penggunaan kondom atau metode kontrasepsi lainnya.
Mengembangkan kemampuan
.  Remaja  perlu
mengembangkan  kemampuan  praktis  untuk  meningkatkan
mungkin merasa tidak ada gunanya merencanakan hari depan dan/
kesehatan  mereka.  Salah  satu  pendekatan untuk  menghadapi
atau  melindungi  kesehatan  mereka. Berbagai  faktor  lain  yang
mempengaruhi kesehatan dan perilaku remaja mencakup:
tantangan ini adalah program  Pilihlah Sebuah Masa Depan  yang
Kemiskinan, termasuk kekurangan gizi;
dilaksanakan di lima negara di Sub-Sahara Afrika. Program tersebut
Kekacauan  politik, termasuk  penduduk  yang  tersingkir atau
menggunakan pelatihan,  permainan peran, kunjungan masyarakat,
dan cara-cara  lain  guna meningkatkan  keterampilan kesehatan,
terisolasi;
termasuk bagaimana  mencegah  penyakit  menular seksual (PMS),
Tekanan kelompok sebaya dan pengaruh media;
Ketidaksetaraan jender dan eksploitasi seksual (lihat hal. 3);
merumuskan tujuan dan meningkatkan komunikasi dengan keluarga
Tuntutan masyarakat  mengenai  kehamilan  dan  melahirkan
dan  teman.  Kurikulum tersebut  juga  membahas  ketidaksetaraan
(childbearing).
jender  yang  mempengaruhi  kesehatan  dan  mempromosikan
tanggung jawab bersama antara  pria  -  wanita
Baru-baru  ini,  sebuah  artikel  menelaah
terhadap kesehatan.
Contoh lain  dari  cara
bagaimana  merumuskan strategi  perencanaan
“Menerima kenyataan bahwa remaja
program  yang  didasarkan  pada  perbedaan
pendekatan ini adalah Kurikulum Keterampilan
juga adalah individu seksual tampak-
tingkat pengalaman seksual remaja   yang  sedang  dilaksanakan  di
nya merupakan salah satu hal yang
berbagai sekolah lanjutan pertama di Kenya. Di
paling berat untuk diterima oleh
Menjamin program yang cocok atau
samping memberikan informasi  tentang  PMS,
kebanyakan lapisan masyarakat”.
relevan untuk remaja
.  Perencana program
pertama-tama  harus  mengidentifikasi  secara
kehamilan  dan  kontrasepsi,  program tersebut
jelas  kelompok  remaja yang  bagaimana  yang
juga  melatih   pendidik  sebaya   untuk
akan dilayani  oleh programnya dan  kemudian
memberikan  pendidikan  AIDS  berbasis
sekolah.
melibatkan kelompok remaja  tersebut dengan  cara yang bermakna

Mempertimbangkan sisi kehidupan remaja
. Pandangan
guna  mengembangkan  program  tersebut.  Beberapa  organisasi
misalnya International Planned Parenthood .ederation (IPP.) telah
remaja atau kaum muda di seluruh dunia sebenarnya dibentuk oleh
melakukan  hal  ini  dengan  membentuk  Panel  Penasehat  Remaja
situasi  dimana  mereka hidup,  Remaja  putri  dengan  pendidikan
untuk membantu membentuk ide-ide program. Proyek Anak Jalanan
minim, atau  mereka  yang  tidak terdidik,  mungkin  akan melihat
kawin muda dan melahirkan sebagai satu-satunya jalan hidup mereka
yang diprakarsai oleh Badan Kesehatan Dunia bidang Program untuk
Penyalahgunaan  Zat  Adiktif,  merekomendasikan agar  organisasi
atau kelompok  yang  bekerja  dengan  anak  jalanan  untuk  terus
memantau  perubahan  kebutuhan  kelompok  sasarannya  dengan
melakukan tiga  atau empat  seri  diskusi kelompok terarah  (focus group discussion) setiap tahunnya.

Menggalang dukungan masyarakat
.  Program  untuk remaja  seringkali  menghadapi  kesulitan  untuk  memperoleh
penerimaan masyarakat karena orang dewasa takut atau kuatir bila
remaja memperoleh pendidikan dan pelayanan kesehatan reproduksi,
remaja justru akan terdorong menjadi aktif secara seksual. Namun
hasil evaluasi berbagai  program di berbagai  negara  membuktikan
lain (lihat kotak di bawah ini). Berbagai program telah membuktikan
bahwa menjelaskan tujuan program kepada para orangtua, pemuka
agama dan tokoh masyarakat, serta mengundang mereka berdiskusi
dengan remaja, dapat mengurangi tentangan atau keberatan mereka
terhadap  program.  Di Nyeri, Perkumpulan Keluarga  Berencana
Kenya membantu  orangtua  mendekati  anak-anak  mereka  untuk
berbagi informasi mengenai kesehatan reproduksi, dan mendorong
adanya diskusi seumur hidup mengenai kesehatan reproduksi.
Di 
Uganda,  Program  Pemantapan  Kesehatan  Reproduksi  Remaja
(Program for Enhancing Adolescent Reproductive  Life/PEARL)
melibatkan  wakil  pemerintah,  LSM,  masyarakat, kaum muda dan
lainnya di dalam program untuk meningkatkan kesadaran mengenai
masalah-masalah  yang  berkaitan  dengan kesehatan  reproduksi,
mendorong terjadinya advokasi dan menyediakan pelayanan.
1
Strategi Program
Pengalaman  menunjukkan  bahwa  kombinasi dari berbagai
pendekatan seringkali paling efektif dalam menjangkau kelompok
remaja.  Namun hanya  sedikit  program  yang  dievaluasi  secara
Poster dari Tanzania ini menekankan  tanggung jawab orang tua untuk
seksama berkaitan dengan dampak atau hasil akhirnya. Oleh karena
mendidik anak-anak mereka mengenai kesehatan reproduksi.
itu, menentukan  program  seperti apa  yang  paling  efektif  justru
Dari .amily Planning Association of Tanzania, 1995
Pentingnya Pendidikan — Termasuk Pendidikan Seksualitas
Membantu remaja agar tetap bersekolah - dengan fokus utama pada remaja putri - merupakan hal yang sangat penting bagi setiap upaya
untuk meningkatkan kesehatan reproduksi remaja. Pendidikan sekolah membantu kaum muda mengembangkan keterampilan dan memperoleh
informasi yang dapat membantu mereka bertahan dalam pasar kerja, dan memberikan mereka keterampilan yang lebih baik untuk merawat
kesehatan mereka sendiri dan kesehatan keluarga mereka. Bersekolah juga membantu remaja putri untuk menunda perkawinan dan  kelahiran
anak pertama. Di Kolombia misalnya, 46% remaja putri dengan pendidikan dasar (7 tahun) melahirkan pada usia 20, tetapi hanya 19%
remaja putri dengan pendidikan di atas 7 tahun (setingkat SMP/SMU) yang melahirkan pada usia 20 tahun. Di Meksiko, wanita tanpa
pendidikan dasar punya kemungkinan tiga kali lebih besar untuk melahirkan pada usia tidak lebih dari 20 tahun, dan di Mesir, kemungkinannya
adalah lima kali lebih besar.
Di berbagai negara, pendidikan seksualitas menjadi bagian dari kurikulum sekolah untuk siswa-siswi yang lebih tua.  Penelitian mengenai
dampak program pendidikan seksualitas pada remaja di negara-negara maju menemukan bahwa program yang efektif:
Memfokuskan pada pengurangan perilaku yang berakibat pada penularan PMS/HIV serta kehamilan yang tidak diinginkan.
Memberikan informasi dasar yang tepat dan akurat mengenai berbagai risiko berhubungan seks yang tidak terlindung/tidak aman.
Mengajarkan remaja atau kaum muda cara menunda hubungan seksual dan cara menggunakan kontrasepsi.
Mendiskusikan pengaruh sosial dan media terhadap perilaku seksual.
Mengembangkan keterampilan berkomunikasi.
Mengembangkan model tentang cara menolak hubungan seksual yang tidak diinginkan dan mendukung perilaku seksual yang
bertanggungjawab,
Membantu remaja memahami masyarakat dan pengaruh-pengaruh lainnya.
Penelaahan terhadap 35 penelitian yang dilakukan di negara maju maupun negara berkembang menyimpulkan bahwa pendidikan seksualitas
berbasis sekolah tidak menyebabkan terjadinya hubungan seks lebih dini dan juga tidak mengakibatkan bertambahnya kegiatan seksual
remaja atau kaum muda. Sebaliknya, justru separuh dari program yang ditelaah memberikan bukti bahwa pendidikan seksual justru berdampak
pada penundaan kegiatan seks dini, penurunan kegiatan seks secara keseluruhan; dan bagi kalangan remaja yang sudah aktif secara seksual
meningkatkan kegiatan pencegahan PMS dan penggunaan kontrasepsi.
Program yang mendukung penundaan kegiatan seks yang disertai
dengan pemberian informasi mengenai seks aman dan kontrasepsi ternyata lebih efektif dibandingkan dengan program yang hanya mendukung
abstinensi (tidak berhubungan seks). Program akan sangat efektif bila diperkenalkan pada remaja berusia lebih muda dimana mereka belum
aktif secara seksual.bcara Secara Terbuka: Forum Tanya Jawab Remaja mengenai Masalah Kesehatan Seksual
Sejak 1993, The Straight Talk .oundation (Yayasan Bicara Secara Terbuka) di Uganda telah mempublikasikan sebuah majalah khusus bagi
remaja untuk menjawab keprihatinan remaja mengenai kesehatan seksual dan reproduksi. Majalah Straight Talk diterbitkan setiap bulan dan
didistribusikan ke seluruh sekolah secara nasional dimana kelompok siswa-siswi mendiskusikan topik pada majalah tersebut. Pada tahun 1998,
Straight Talk .oundation menerbitkan Young Talk, majalah yang khusus ditujukan bagi anak-anak usia 10-12 tahun. Majalah Young Talk ini memberikan
informasi bagi anak-anak tentang masalah-masalah yang akan mereka hadapi di kemudian hari yang berkaitan dengan masalah pertumbuhan/
perubahan tubuh dan pengaruh kelompok sebaya. Dengan penekanan pada  hak anak , termasuk hak untuk memperoleh pelayanan kesehatan,
pendidikan dan keamanan, majalah ini juga mendidik anak-anak mengenai cara menunda seks, menghindari situasi yang berisiko dan menghindari
orang dewasa yang ingin mengeksploitasi mereka.
Para pembaca majalah Straight Talk bertukar pikiran mengenai perasaan mereka dan menyampaikan banyak pertanyaan penting. Seperti
diungkapkan salah seorang siswa dari Kampala  Bagi saya sangat menakutkan melihat begitu banyak r emaja dewasa ini yang melakukan hubungan
seks yang tidak aman . Remaja lainnya mempertanyakan tentang rumor antara lain  Saya dengar bahwa Pil KB dapat menyebabkan kanker atau
cacat pada bayi . Para dokter dan konselor menjawab pertanyaan-pertanyaan ini dengan menekankan pentingnya menjaga harga diri, menghargai
orang lain, dan melindungi kesehatan pribadi. Salah satu masalah yang diangkat adalah kekerasan seksual, termasuk perkosaan oleh pacar (date
rape) dan hubungan seks yang dipaksakan (coerced sex) serta memberikan nasehat pada korban-korban kekerasan seksual. Kedua majalah tersebut
menekankan bahwa absen seks (abstinence) adalah perilaku yang paling aman bagi remaja, dan mendorong para remaja untuk aktif dalam berbagai
kegiatan seperti olahraga, sebagai cara sehat untuk berinteraksi dengan remaja lain. Bagi remaja yang telah aktif secara seksual, ditekankan penggunaan
kondom dan tes PMS/HIV.
Straight Talk melibatkan remaja dalam diskusi mengenai kesehatan dan membahas tekanan yang sering mereka hadapi atau rasakan sehingga
memungkinkan terlibat di dalam perilaku berisiko. Program kunjungan ke sekolah memungkinkan para remaja bertanya langsung kepada konselor
maupun dokter. Straight Talk tersedia dalam bahasa setempat dan juga disebarluaskan kepada remaja putus sekolah, serta menjalin kerjasama
dengan program radio yang disiarkan dalam 3 bahasa. Publikasi juga tersedia pada Website secara elektronik dan mendorong para perencana
program untuk menggunakan materi-materi tersebut guna mengembangkan program serupa di daerah lainnya.
Straight Talk dan program pencegahan PMS/HIV didukung penuh di Uganda, dan studi evaluasi baru-baru ini menunjukkan bahwa kaum muda
di Uganda kini melakukan kegiatan seks yang aman dan cenderung menunda kegiatan seksual mereka dibandingkan sepuluh tahun yang lalu, dan
bahkan penularan HIV terus menurun terutama di kalangan remaja
menjadi tantangan tersendiri. Berikut ini adalah beberapa pendekatan
Sejak tahun 1978,  program ini  telah memungkinkan  remaja  putri
yang umum dilakukan.
untuk melanjutkan sekolah  sekalipun sedang  hamil,  kembali ke
Pelayanan klinik berorientasi remaja
(Youth-oriented
sekolah sesudah  persalinan,  dan mencegah terulangnya kehamilan
clinic services) adalah pelayanan yang cukup umum di Amerika,
selama masa  remajanya.  Selama  mengikuti program, remaja  putri
Eropa  Barat  dan  Amerika  Latin.  Klinik-klinik  ini  memberikan
meneruskan pendidikan  akademisnya,  menerima  informasi dan
berbagai  pelayanan  sosial  dan  klinis seperti  kehamilan,  konseling
pelayanan KB, belajar keterampilan untuk merawat bayi/anak, serta
pencegahan PMS  dan  pengetesan atau  pemeriksaannya.  Sebagai
menerima pelayanan perencanaan  hidup.
Baru-baru ini, evaluasi
contoh, pada  tahun  1990,  rumah  sakit  Maria  Auxiliadora mulai
terhadap program tersebut menunjukkan bahwa hanya 1,4 % remaja
memberikan pelayanan bagi satu juta remaja di daerah sekitar kota
putri  yang  dijangkau program  mengalami kehamilan untuk kedua
Lima,  Peru.  Rumah  Sakit  tersebut  membentuk  10 klinik  remaja
kalinya sebelum lulus sekolah atau sebelum mulai bekerja
untuk  memberikan  pelayanan   dan  konseling  pencegahan di  luar
Program penjangkauan berbasis masyarakat
rumah  sakit.  Keterkaitan  antara PMS dan  pelayanan kesehatan
(Community-based  outreach  programs)  adalah program  penting,
reproduksi lainnya  tampaknya membuat  klinik-klinik  ini lebih
terutama  bagi  kelompok  seperti  remaja  putus  sekolah,  remaja
bermanfaat bagi remaja.
jalanan, dan remaja putri yang memiliki kesempatan terbatas untuk
Klinik berbasis sekolah
(School-based clinics)  tersedia
keluar dari  lingkungannya.  Proyek berbasis masyarakat  seperti ini
di beberapa  negara maju dan negara berkembang. Pelayanan yang
menggunakan  berbagai  cara  untuk  menjangkau  remaja  dimana
diberikan  bervariasi,  tetapi  minimum  mencakup  pemantauan
mereka berkumpul untuk bekerja atau bermain. Sebagai contoh, di
kesehatan  dasar  dan pelayanan  rujukan. Di  negara  maju,  klinik
Meksiko, para anggota  gang  dilatih untuk menjangkau kelompok
berbasis sekolah menyediakan kondom dan konseling yang berkaitan
remaja putus sekolah, bekerjasama dengan Mexican Social Security
dengan  kehamilan dan  pencegahan  PMS,  serta  rujukan  untuk
Institute  (IMMS)  dan Perkumpulan Keluarga Berencana  Meksiko
berbagai  pelayanan  lainnya sehubungan dengan  kontrasepsi dan
(MEX.AM). Sesudah mengikuti sesi pendidikan, para anggota gang
kesehatan  reproduksi.  Pelayanan  klinik  seperti  ini  seringkali
yang  tertarik  diundang  untuk  bergabung dalam kelompok  teater
mengundang kontroversi.  Di negara  berkembang,  klinik  berbasis
untuk  mementaskan  pertunjukan  di  tempat  umum  maupun  di
sekolah  seringkali  dibatasi  oleh  adanya pembatasan  kebijakan,
sekolah, agar dapat memberikan informasi kepada kelompok sebaya
kekurangan  tenaga,  kurangnya  jaminan  kerahasiaan  untuk
mereka.
konseling, serta kurangnya jaringan kerja dengan sumber daya yang
Kelompok remaja
seperti  Pramuka dan  perkumpulan  olah-
ada di luar sekolah.
raga  juga  terbukti  bermanfaat  dalam  memberikan  informasi
Pusat multi pelayanan remaja (Youth Center) sering memberikan
kesehatan  reproduksi  sebagai  bagian dari  program yang  berfokus
pelayanan  kontrasepsi sebagai  bagian  program  menyeluruh  bagi
pada kesehatan dan kesejahteraan umum para anggotanya. Sebagai
kaum  muda,  termasuk  pendidikan,  rekreasi,  dan  persiapan  kerja.
contoh,  di  Kenya, Persatuan  Olahraga Remaja  Mathare (MYSA)
Salah satu  program  yang berhasil adalah  Women s  Center  for
sejak tahun 1987 memulai proyek bantu-diri  yang melibatkan remaja
Pregnant Adolescents (Pusat Pelayanan Remaja Hamil) di Jamaica.
putra dan putri dalam kegiatan pengembangan masyarakat dan pada
waktu yang bersamaan juga menyediakan kesempatan berolahraga.
Saat ini hampir 3.000 remaja putri berusia 10-18 tahun terlibat dalam
program sepakbola masyarakat. MYSA kemudian mengembangkan
program  tersebut  dengan  mencakup  pelatihan  kesadaran  akan
HlVdan bahkan telah memulai proyek kesetaraan jender. Penelitian
di Amerika Serikat menemukan bahwa remaja putri yang terlibat di
dalam kegiatan olahraga yang terorganisir, secara mental dan fisik
menjadi  lebih sehat,  dan  tingkat  putus  sekolahnya  lebih rendah,
kepercayaan diri lebih baik, dan mempunyai tingkat stres dan depresi
yang lebih rendah. Semua faktor tersebut membantu mereka menjadi
lebih matang dalam membuat keputusan.
Program kesehatan di tempat kerja
dapat menjadi  satu
sumber  penting  bagi  kaum  muda  pria  maupun  wanita.  Sebagai
contoh,  sebuah  program  di  Thailand  memberikan  informasi
kesehatan reproduksi bagi  pekerja  wanita  yang  tinggal  di  asrama
tempat  kerja.  Teman  sebaya  yang  telah  dilatih  memberikan
penyuluhan menggunakan berbagai  media populer seperti komik,
buku novel dan diskusi kelompok sebaya. Diskusi ini memberikan
kesempatan kepada  peserta  untuk  belajar  dan  mempraktekkan
keterampilan  khusus  seperti  bernegosiasi,  merencanakan,  dan
mengetahui  kesehatan  seksual  misalnya  dalam  hal penggunaan
kondom.
Implikasi dan Kesimpulan
Kelompok kaum  muda termasuk remaja  menghadapi berbagai
risiko yang berkaitan dengan kesehatan reproduksinya - kehamilan
dini dan kehamilan yang tidak diinginkan, aborsi yang tidak aman,
infeksi PMS/HIV, dan kekerasan seksual. Program yang ditujukan
untuk meningkatkan kesehatan reproduksi remaja perlu memahami
risiko-risiko  ini  dan  mempertimbangkan  berbagai faktor  yang
mempengaruhi kehidupan  remaja.  .aktor  seperti,  apakah  remaja
telah  memulai  aktivitas  seksual, apakah  sudah  menikah,  masih
Poster yang diproduksi oleh Pusat Program Komunikasi John Hopkins
sekolah,  atau telah bekerja, menjadi faktor pertimbangan penting.
University tahun 1996, untuk Program Kesehatan Reproduksi Wanita
Dampak  kemiskinan, ketidaksetaraan jender,  pembatasan  undang-
Rusia, punya pesan sederhana berbunyi:  Masa Muda sungguh indah.
undang  serta berbagai  tuntutan  budaya juga perlu  diperhitungkan
Jangan bergantung pada kesempatan. Gunakan kontrasepsi.
dalam merencanakan program kesehatan reproduksi remaja.
memperoleh dukungan serta keterlibatan mereka  dalam  program.
Program yang sukses, dapat  memberikan pelayanan konseling
dan klinis yang dibutuhkan remaja, serta bertujuan membantu kaum
Dengan adanya kebutuhan pelayanan kesehatan remaja yang tumbuh
muda mengembangkan keterampilan untuk membuat pilihan yang
begitu pesat, maka sangat penting bagi program yang baru maupun
sehat. Program  seperti  ini seyogianya menghormati  kebutuhan,
pengembangan  program  dibuat  berdasarkan  pengalaman program
keprihatinan dan  pemahaman  kaum muda, dengan  melibatkan
yang sudah berhasil. Setiap kali dimungkinkan, program harus terus
di pantau, dievaluasi dan didokumentasikan untuk menjamin bahwa
mereka  dalam  kegiatan perancangan dan  pelaksanaan  program.
Program  yang  berhasil,  melibatkan dan  bekerjasama  dengan
tantangan-tantangannya dipahami benar, dan keberhasilannya dapat
orangtua,  kelompok  masyarakat,  serta  tokoh  agama  untuk
direplikasikan secara luas.
Perangkat Perencanaan untuk Meningkatkan Kesesuaian Antara Kebutuhan dan Program
Berbagai studi menunjukkan adanya kesenjangan antara program yang ada dengan kebutuhan kesehatan kaum muda di negara berkembang.
Sebuah artikel baru-baru ini menunjukkan bahwa, selain mempertimbangkan perbedaan utama antara kaum muda, seperti misalnya jend er,
usia, dan status perkawinan, perencana program perlu memulai dengan mengenal bahwa kaum muda berbeda dalam hal pengalaman seks.
Kaum muda dapat digolongkan dalam 3 kategori untuk tujuan perencanaan: a) mereka yang belum aktif secara seksual; b) mereka yan g
aktif secara seksual dan belum mengalami akibat buruk pada kesehatan reproduksi (misalnya mengalami kehamilan yang tidak diingi nkan
atau PMS); c) mereka yang aktif secara seksual dan sudah punya pengalaman buruk dan mengalami konsekuensi yang tidak sehat.
Penggolongan berdasarkan pengalaman ini akan membantu perencana program untuk menggunakan secara efektif sumber daya masyarakat
dan sumber daya klinis yang tersedia, termasuk organisasi masyarakat, lokasi atau fasilitas rekreasi, klinik kesehatan dan  lain-lainnya.
Banyak remaja yang cenderung datang ke klinik sebagai jalan terakhir; tetapi akan memanfaatkan program masyarakat yang menawark an
bantuan sehingga mereka dapat memperoleh keterampilan, informasi kesehatan, konseling dan memperoleh kondom. Pelayanan klinik
yang bersahabat dengan gaya remaja dapat dibuat untuk remaja yang membutuhkan perawatan kehamilan, perawatan PMS dan pelayanan
kesehatan reproduksi lainnya